Damkar: Kerugian Kebakaran Lebih Mahal Ketimbang Harga APAR
Seusai kejadian, Damkar menginspeksi untuk mengevaluasi kesiapsiagaan di lokasi. Hasilnya, ditemukan bahwa kecepatan respons awal masih perlu ditingkatkan oleh pengelola SPBU.
Menurut Rianung, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat, baik dalam upaya pencegahan maupun pemadaman kebakaran.
Dia juga menekankan kepekaan petugas Pom Bensin terhadap potensi bahaya. Keberadaan alat pemadam api ringan (APAR) harus diimbangi dengan kemampuan penggunaan yang benar.
“Petugas harus tahu cara membuka, mengarahkan hingga menyemprot APAR dengan tepat. Jangan sampai api dibiarkan karena kurang peka. Api kecil kalau didiamkan akan membesar dan makin sulit dipadamkan,” ujarnya.
Pihaknya terus mengedepankan upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat, termasuk sejak usia dini. “Fokus utama kami sebenarnya pencegahan, bukan pemadaman,” ujarnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations, dan CSR Pertamina Patra Niaga Jawa Tengah dan DIY Taufik Kurniawan telah mengambil langkah cepat menyikapi insiden yang terjadi pada Jumat (3/4) kemarin.
Dia mengatakan SPBU Sriwijaya ditutup sementara selama dua hari untuk pembekalan dan pembinaan terhadap operator, khususnya terkait aspek keselamatan (HSSE) dan peningkatan respons cepat dalam penanganan kebakaran pada fase krusial (golden time).
“Penutupan ini juga untuk perbaikan sarana dan prasarana, baik dari sisi keselamatan maupun fasilitas lain yang perlu dibenahi,” ujarnya.
Harga APAR jauh lebih kecil daripada kerugian akibat kebakaran sepeda motor Yamaha F1Z R di SPBU Sriwijaya.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News