Permintaan Unik 13 Bocah Rambut Gimbal Sebelum Diruwat di Dieng
Rangkaian ruwatan selanjutnya ditutup dengan tradisi Ngalap Berkah. Masyarakat, pejabat, wisatawan domestik hingga wisatawan mancanegara makan bersama sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Chaerudin mengatakan ruwatan anak berambut gimbal menjadi salah satu daya tarik utama DCF. Tradisi tersebut tidak hanya mempertahankan warisan budaya masyarakat Dieng, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkannya kepada wisatawan dari berbagai daerah dan mancanegara.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon dalam sambutan tertulis yang dibacakan Direktur Warisan Budaya Kementerian Kebudayaan Agus Widiatmoko pada pembukaan DCF 2026, Jumat (28/8), mengingatkan agar masyarakat tetap menjadi pemilik utama tradisi.
“Jangan sampai nilai budaya dikorbankan dengan kepentingan ekonomi,” katanya.
Menurut Fadli, ruwatan rambut gimbal merupakan tradisi lintas generasi yang memuat nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, gotong royong, serta hubungan manusia dengan alam.
Tradisi tersebut telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016.
Fadli menegaskan ruwatan rambut gimbal harus tetap menjadi living tradition. Masyarakat, kata dia, harus menjadi pemilik, pelaku, pengelola, sekaligus penerima manfaat utama dari keberadaan tradisi tersebut.
Dia juga mendorong adanya regenerasi pengetahuan budaya kepada generasi muda agar tradisi masyarakat Dieng tetap hidup dan dapat diwariskan lintas generasi. (antara/jpnn)
13 anak berambut gimbal menjalani ruwatan di Candi Arjuna dalam DCF 2026. Sebelum rambut dipotong, mereka menyampaikan permintaan yang beragam.
Redaktur & Reporter : Danang Diska Atmaja
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News