Mengenal Ibnu Parna: Tokoh Komunis Independen di Semarang
jateng.jpnn.com, SEMARANG - Sebelum duduk di parlemen, Ibnu Parna lebih dulu merasakan penjara dan hidup dalam pelarian. Dua penguasa yang berbeda pernah memburunya, yakni pemerintah kolonial Belanda dan tentara pendudukan Jepang.
Lahir di Surabaya pada 26 September 1920, Ibnu Parna sebenarnya mempunyai latar belakang keluarga bangsawan.
Kakeknya disebut sebagai Tumenggung Pusponegoro, tokoh yang dikenal dalam sejarah Gresik dan dikaitkan dengan pembangunan masjid pertama di daerah tersebut.
Namun, Ibnu Parna memilih jalan yang jauh dari kehidupan elite. Ketika usianya belum genap 20 tahun, dia sudah terlibat dalam aktivitas pengorganisasian buruh pelabuhan Tanjung Perak.
Pada 1939, dia mengorganisasi kelompok studi buruh yang kemudian membuat aktivitasnya diawasi pemerintah Hindia Belanda.
Tekanan dari pemerintah kolonial membuat Ibnu Parna hidup berpindah-pindah di Pulau Jawa. Dalam pelarian itu, dia bahkan bekerja sebagai kuli jalanan. Kota Semarang, Jawa Tengah, kemudian menjadi tempat pelariannya berakhir.
Pada 1941, pemerintah Belanda menangkap Ibnu Parna dengan tuduhan terlibat dalam upaya pembangkangan.
Situasinya belum berubah ketika kekuasaan kolonial berganti tangan. Setelah Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Ibnu Parna kembali ditangkap dan dijebloskan ke penjara karena tuduhan yang berkaitan dengan aktivitas perlawanan.
Ibnu Parna dikenal sebagai tokoh Angkatan Comunis Muda, organisasi komunis di Semarang yang tak terafiliasi dengan PKI.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News