Inggris vs Argentina: Laga Sarat Dendam
Di sisi lain, Inggris berusaha mengakhiri penantian panjang menuju final yang terakhir kali mereka rasakan saat menjadi juara dunia pada 1966.
Meski secara statistik Argentina tampil lebih produktif dengan 17 gol sebelum semifinal, Inggris menunjukkan perkembangan signifikan di bawah asuhan Thomas Tuchel. Three Lions melaju ke empat besar tanpa sekalipun menelan kekalahan.
Tuchel dinilai berhasil membangun tim yang lebih solid dan kolektif dibanding era sebelumnya. Pola permainan yang bertumpu pada Declan Rice, Elliot Anderson, dan Harry Kane membuat Inggris menjadi salah satu tim paling seimbang di turnamen ini.
Namun, perhatian utama tetap tertuju kepada Lionel Messi.
Kapten Argentina itu kembali menjadi motor permainan Albiceleste setelah menciptakan delapan gol dan puluhan peluang sepanjang turnamen. Pengalaman panjang menghadapi klub-klub Inggris saat membela Barcelona dan PSG juga menjadi modal penting menghadapi Three Lions.
Jika Inggris mampu membatasi pengaruh Messi seperti ketika meredam Erling Haaland pada perempat final melawan Norwegia, peluang menuju final akan terbuka lebar.
Sebaliknya, jika Messi kembali menemukan ruang untuk mengendalikan permainan, Argentina berpeluang melanjutkan tradisi impresif mereka di semifinal Piala Dunia. Dari enam semifinal sebelumnya, Albiceleste belum pernah kalah.
Dengan sejarah panjang yang penuh kontroversi, ambisi besar kedua negara, serta duel taktik antara Thomas Tuchel dan Lionel Scaloni, laga Inggris kontra Argentina berpotensi menjadi pertandingan paling emosional sekaligus paling menentukan di Piala Dunia 2026. (antara/jpnn)
Inggris dan Argentina kembali bentrok di Piala Dunia setelah 24 tahun. Rivalitas, Messi, dan ambisi ke final membuat laga ini diprediksi panas.
Redaktur & Reporter : Danang Diska Atmaja
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News