Tindakan Brutal Polisi Tembak Siswa SMK di Semarang Sulit Dimaafkan

jateng.jpnn.com, SEMARANG - Suasana hati keluarga Gamma Rizkinata Oktafandy (17), siswa SMK N 4 Semarang yang meregang nyawa di tangan seorang aparat kepolisian, tak karuan.
Meski keputusan sidang etik profesi memutuskan Aipda Robig dihukum pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) alias dipecat, luka di hati keluarga Gamma tetap menganga.
Andi Prabowo, ayah Gamma, memendam amarah yang tak bisa dipadamkan. "Ya, jengkel, manusiawi," ucapnya singkat seusai sidang etik Aipda Robig di Mapolda Jateng, Senin (9/12).
Baginya, kehilangan seorang anak karena tindakan brutal seorang polisi dengan melakukan penembakan adalah luka yang tak mungkin sembuh.
Penembakan tragis yang terjadi pada Minggu (24/11) itu bukan hanya merenggut nyawa Gamma, tetapi juga menghancurkan mimpi-mimpi seorang remaja yang seharusnya memiliki masa depan cerah.
Gamma tewas setelah ditembak oleh anggota Sat Narkoba Polrestabes Semarang, yang diduga tersulut emosi karena merasa motornya dipepet oleh Gamma dan teman-temannya.
Andi mengaku hingga perbuatan Aipda Robig sulit dimaafkan. "Wajar kalau saya marah sekali," ujarnya.
Meski begitu, keluarga Gamma mengapresiasi keputusan PTDH sebagai bentuk keadilan yang sudah lama mereka dambakan.
Di balik kasus polisi tembak siswa SMK di Semarang, ayah korban sulit memaafkan Aipda Robig.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News