37 TPA di Jawa Tengah Overkapasitas, Butuh Revolusi Pengelolaan Sampah
jateng.jpnn.com, SEMARANG - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah menyatakan 37 tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah tersebut telah melebihi kapasitas, terutama di kawasan perkotaan seperti Kota Semarang, Tegal, dan Pekalongan.
Kepala DLHK Jateng Widi Hartanto menyoroti pengelolaan sampah yang kurang optimal sebagai penyebab utama penumpukan sampah.
Dia mendorong pemerintah daerah untuk beralih dari metode open dumping ke control landfill atau sanitary landfill, yang lebih ramah lingkungan dan dapat mengurangi risiko pencemaran, bau, serta emisi gas metana.
Baca Juga:
"Pentingnya inovasi dalam pengelolaan sampah, seperti memanfaatkan sampah organik untuk maggot dan pupuk, serta mengolah sampah anorganik menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) yang dapat digunakan sebagai bahan bakar," ungkapnya, Rabu (8/1).
Sebagai contoh pengelolaan sampah yang baik, kata dia, TPST di Kabupaten Banyumas, di mana pengelolaan sampah dilakukan di tingkat kecamatan dengan melibatkan masyarakat.
"Sampah dikumpulkan mulai dari tingkat RT dan dikelola hingga menghasilkan residu yang sangat minim. Organik diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sementara yang tidak organik dimanfaatkan sebagai RDF atau dibakar menggunakan insinerator," ujarnya.
Baca Juga:
Widi juga menekankan pentingnya peningkatan anggaran pengelolaan sampah di tingkat kabupaten/kota, meskipun hal ini memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Namun, manfaat jangka panjang yang diperoleh, seperti lingkungan yang lebih bersih dan sehat, dianggap jauh lebih besar daripada investasi yang dikeluarkan. (Antara/jpnn)
Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Jawa Tengah menyatakan 37 tempat pembuangan akhir (TPA) di wilayah tersebut telah melebihi kapasitas,
Redaktur & Reporter : Danang Diska Atmaja
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News