Pengusaha Rokok Kecil di Kudus Mulai Resah, Apa Penyebabnya?

Senin, 15 Agustus 2022 – 11:08 WIB
Pengusaha Rokok Kecil di Kudus Mulai Resah, Apa Penyebabnya? - JPNN.com Jateng
Sejumlah pekerja rokok di salah satu pabrik golongan III di kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus, Jawa Tengah, menyelesaikan pekerjannya memproduksi rokok. Foto: ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif.

jateng.jpnn.com, KUDUS - Sejumlah pegusaha rokok golongan di Kabupaten Kudus mulai resah dengan masih maraknya peredaran rokok ilegal yang dijual lebih murah.

Salah satu pengusaha rokok kecil Sutrisno mengatakan dirinya merisaukan masih adanya peredaran rokok ilegal di wilayah pangsa pasarnya sehingga bisa menurunkan omzet penjualan

"Saat ini, kondisi perekonomian memang sedang bangkit dari sebelumnya terdampak pandemi. Sehingga harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas produksinya," kata pemilik Pabrik Rokok Rajan Nabadi Kudus itu, Senin (15/8).

Dia mengatakan selama masa pandemi Covid-19 kapasitas produksinya hanya 42 bal per harinya, sedangkan saat ini meningkat menjadi 60 bal per harinya.

"Untuk wilayah pemasarannya mulai dari daerah di Jawa Barat, Sumatera hingga wilayah Jawa Timur," jelasnya.

Namun dia makin resah dan mengkhawatirkan dengan maraknya peredaran rokok ilegal, karena di beberapa wilayah pemasarannya memang bersaing dengan rokok ilegal yang dijual dengan harga Rp 10.000 per bungkus dengan isi 20 batang.

Dibanding dengan rokok yang dia jual seharga Rp 8.000 per bungkus dengan isi 12 batang dan saat ini hampir semua bahan baku naik.

"Karena pangsa pasar kami merupakan konsumen kelas bawah, tentunya mudah terpengaruh dengan rokok dengan banderol harga lebih murah," ujarnya.

Ini penyebab para pengusaha rokok kecil di Kabuapaten Kudus resah akan penurunan omzet penjualan.
Sumber antara

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News