Bakti Basuh Kaki, Tradisi yang Sudah Jarang Dilakukan Menjelang Imlek

Syair Fu Qing Papa mengkisahkan bakti terhadap orang tua serta salah satu puisi karya Harjanto berjudul Basuh Kaki Orang Tua juga dibacakan pada acara basuh kaki. Meski pelaksanaan tradisi itu terlihat sederhana, suasananya justru penuh keharuan.
Tetes air mata terlihat di wajah para peserta tradisi basuh kaki. Tamu-tamu dari agama lain yang ikut menyaksikan acara itu juga tak kuasa menahan rasa haru.
Suasana haru memuncak ketika para orang tua melepas alas kaki. Kaki-kaki dengan kulit berkeriput akibat penuaan dicelupkan ke dalam ember.
Tak berselang lama, kaki-kaki para orang tua itu diangkat, kemudian diletakkan di atas paha anak-anak mereka. Selanjutnya, kaki-kaki basah itu dikeringkan dengan handuk kecil.
Tangis kian tidak terbendung ketika orang tua dan anak-anaknya bergantian saling memaafkan. Duduk di kursi, para orang tua itu meraih anak-anak mereka yang bersimpuh di lantai.
Prosesi selanjutnya dalam ritual basuh kaki ialah pemberian teh kepada orang tua. Teh itu dituangkan ke gelas merah kecil.
Cara menyerahkannya pun harus dengan dua tangan seperti saat bersembahyang. Pemberian teh itu sebagai lambang penghormatan dari anak kepada orang tua.
"Bagaimanapun kita tidak bisa melupakan peran dan jasa orang tua sebagai bagian dari diri kita," ucap Harjanto.
Masyarakat mengenal Imlek dengan pesta dan bagi-bagi angpau. Namun, ada nilai lain yang masih dipertahankan warga Tionghoa, yakni tradisi basuh kaki.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News