7 Tahun Menunggu, DR. Aton Rustandri Ceritakan Proses Panjang Gamelan Diakui UNESCO

“Saya sangat berterima kasih, karena usaha kami dikabulkan. Apa yang dicita-citakan oleh Alm. Rahayu Supanggah itu terwujud,” ungkap Dosen Etnomusikologi ISI Surakarta itu.
Pria yang pernah menjadi Direktur Pascasarjana ISI Surakarta itu mengatakan, penetapan dari UNESCO ini bukan untuk menjadi euforia.
Namun, lebih pada penyadaran bagi masyarakat untuk tetap menjaga kesinambungan dan mengembangkan gamelan ke depan.
“Itu adalah tanggung jawab baru dan tidak bisa hanya dilakukan oleh kami yang ikut berkontribusi dalam menyusun naskah tersebut, tetapi juga masyarakat dunia,” lanjutnya.
Aton menambahkan, pertanggungjawaban itu ada kaitannya dengan tidak dituliskannya kata Indonesia setelah kata gamelan.
Menuritnya, ada kemungkinan PBB ingin menempatkan gamelan bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga milik dunia.
“Faktanya di sebagian besar dunia baik itu di Eropa, Asia, Australia, gamelan berkembang. Entah itu dilakukan oleh warga diaspora Indonesia atau dalam konteks yang beragam,” paparnya.
Ia pun berpesan momen ini bisa meningkatkan kepedulian dari para aktor yang menekuni gamelan ataupun akademisi seni dengan cara menunjukkan kemanfaatan gamelan dalam bidang pengembangan karir atau praktik kehidupan sosial lainnya.
Ketua Tim Penyusun Draf Pengajuan DR. Aton Rustandri Mulyana menceritakan dari awal proses pengajuan gamelan bisa diakui sebagai WBTB UNESCO.
Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News